Sunday, 5 June 2016

PUASA RAMADHAN

(sumber: http://waroengsehat.com)

Puasa merupakan dalam kehidupan sehari hari dikenal sebagai kegiatan menahan untuk tidak mengkonsumsi makanan. Dalam ilmu kesehatan puasa biasanya dilakukan dalam menjalani pra perlakuan medis dengan tujuan tertentu. Dalam Islam puasa merupakan serangkaian kegiatan untuk tidak makan dan minum serta tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkannya. Perintah puasa tertera dalam QS Al-Baqarah ayat 183-185 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) : memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 

Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barang siapa diantara kalian hadir (dinegeri tempat tinggalnya) dibulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.


Adapun tujuan dari puasa adalah untuk mendapatkan tingkatan takwa. Takwa memiliki arti mengerjakan apa yang telah diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SAW. Seseorang diuji dan dilatih ketakwaannya dalam keadaan puasa. Seorang yang berpuasa harus menjaga nafsu makan dan minum, dalam keadaan lapar seseorang dilatih untuk menjaga pendengaran, pengelihatan, perasaan dan tindakan. Saat berbuka puasa seseorang hendaknya masih dapat mengendalikan hawa nafsunya baik nafsu makan maupun nafsu dalam melakukan hal lain. Terkadang dalam menjelang berbuka seseorang menginginkan makanan yang begitu banyak macamnya, Padahal ketika berbuka tidak juga semua makanan yang diinginkan sebelumnya dimakan, bahkan keinginan untuk memakannya hilang. Dalam keadaan ini seseorang diuji untuk bisa mengendalikan nafsu. Tidak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari, seseoarang terkadang menginginkan banyak hal dan berfikir akan selalu senang ketika memiliki semua hal yang mereka inginkan saat merka mendapatkannya. Mereka berfikir akan selalu menjaga dan merawatnya setiap saat. Tetapi pada kenyataannya, banyak sekali yang lupa dan menginginkan hal lain yang berbeda. Itulah hawa nafsu dari seorang manusia.
Sebagai seorang hamba maka hendaknya seseorang dapat mengendalikan hawa nafsu duniawi. Manusia juga dituntut untuk bisa hidup sederhana (tidak bermewah-mewahan). Jika seseorang membutuhkan satu mobil, walaupun bisa membeli sepuluh mobil maka hendaknya hanya membeli satu mobil. Seseorang hendaknya bisa menyeimbangkan antara penghasilan, kemampuan dan kebutuhan.

No comments:

Post a Comment